Notification

×

Iklan

Iklan

Indonesia, Mimpi Jokowi & Raja Baterai Mobil Listrik Dunia

Senin, 19 Oktober 2020 | 22:47 WIB Last Updated 2020-10-19T15:47:58Z
Komentar - Views :
    Share

Asi News - Mimpi besar Presiden Joko Widodo terhadap pengembangan kendaraan listrik akan segera tercapai. Hal ini terlihat dari beberapa calon investor kelas dunia yang menunjukkan minatnya untuk membangun industri rantai pasok pabrik baterai kendaraan listrik hingga pabrik mobil listrik di Indonesia. 

Jokowi menjelaskan, saat ini pemerintah tengah mempersiapkan langkah-langkah kebijakan untuk menuju kesana. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan bijih nikel untuk dikelola menjadi baterai lithium. Bahkan, Saat ini pemerintah tengah berkomitmen untuk menghentikan sementara ekspor bijih nikel dan mengalihkannya ke dalam negeri. 

Keputusan Jokowi untuk melarang ekspor nikel ke Eropa tentu berbuah manis. Hasilnya, banyak investor masuk dan menggelontorkan uang triliunan rupiah untuk bekerja sama mengelola nikel mentah ini. Tentunya, Indonesia bisa megelola nikel menjadi produk baterai yang memiliki nilai jual tinggi. sumber

Seperti yang diketahui baterai adalah bahan baku pembuatan mobil listrik di masa depan. Baterai bisa menjadi pengganti bahan bakar minyak bumi yang tak bisa diperbaharui dan tak ramah lingkungan. Kalau hari ini dunia dihadapkan pada tantangan era digital dan teknologi informasi. Di era mendatang, tantangan dunia adalah menciptakan formula energi baru. 

Energi yang diolah dari alam seperti sel surya, angin, lautan dan sebagainya memiliki keterbatasan karena bergantung pada musim, cuaca dan sebagainya. Beda halnya dengan baterai yang bisa menyimpan energi dan mengkonversinya sewaktu-waktu jika digunakan. Untuk itu, seluruh negara di dunia sedang mempersiapkan energi alternatif ini. 

Berbicara soal kesiapan Indonesia, keputusan Jokowi untuk mengolah nikel dalam negeri sangat tepat sekali. Hal ini juga disambut oleh Menteri Erick Thohir dengan melakukan holding BUMN termasuk Pertamina untuk membuat mobil listrik. 

Berita persiapan Indonesia sendiri seperti dilansir cnbcindonesia.com, Tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni MIND ID (dulu Inalum), PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero) tengah membentuk PT Indonesia Battery tersebut. Tak butuh waktu lama, IBH ini bakal terbentuk dalam satu sampai dua bulan ke depan. sumber

"Rencananya dalam 1-2 bulan sudah jadi itu PT (Indonesia Battery). Sedang dikerjakan dari bagian legal kami," ungkap Direktur Utama Holding BUMN Pertambangan MIND ID Orias Petrus Moedak.

Komisaris Utama MIND ID, Agus Tjahjana Wirakusuma, ditunjuk sebagai ketua pembentukan holding ini. Holding ini nantinya akan mengurusi rantai pasokan baterai dari hulu hingga ke hilir. Di bagian hulu atau pertambangan nikel guna memasok bahan baku akan dikerjakan oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Sementara di sisi hilir akan dijalankan Pertamina dan PLN.

"Rantai industri baterai ini ada untuk energi storage system sampai ke recycling (daur ulang) untuk memanfaatkan energi baterai yang sudah terpakai bisa dipakai ulang lagi," tuturnya. 

Seperti diketahui, Kementerian BUMN menyebut ada dua perusahaan kakap dunia, yakni Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari China dan LG Chem Ltd asal Korea Selatan, berminat masuk dalam proyek bernilai US$ 20 miliar atau sekitar Rp 296 triliun (asumsi kurs Rp 14.800 per US$) di Indonesia. Keduanya merupakan produsen baterai EV untuk kendaraan listrik terbesar dunia. 

Tidak berhenti hanya dengan China dan Korea, MIND ID juga tengah melakukan pembicaraan dengan calon investor asal Jepang untuk ikut berpartisipasi dalam proyek baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Orias mengatakan, pihaknya masih terbuka bagi calon investor lain untuk turut berinvestasi di proyek baterai ini. Menurutnya, pembicaraan dengan Jepang sudah berlangsung, namun memang belum sejauh dengan China dan Korea.

Menurut Jokowi, bukan tanpa alasan mengapa Indonesia bisa menjadi salah satu produsen baterai mobil listrik terbesar di dunia. Salah satunya adalah karena produksi bijih nikel Indonesia yang begitu melimpah. Selain nikel Indonesia juga bisa memanfaatkan bahan baku mineral lainnya untuk memproduksi baterai. Misalnya adalah dengan memanfaatkan kobalt, mangan yang menurutnya memiliki nilai tambah jika dikelola menjadi produk jadi. sumber

Jokowi melanjutkan, hal ini akan memperbaiki defisit transaksi berjalan, meningkatkan peluang kerja, dan mulai mengurangi dominasi energi fosil. Menurutnya, dengan kemandirian itu, Indonesia dinilai strategis untuk pengembangan baterai lithium untuk mobil listrik. 

Akhirnya ini akan menjadi berita bagus untuk negeri ini di tengah krisis akan pandemi corona. Menurut saya pribadi, investasi terbesar manusia ialah ilmu pengetahuan. Percuma saja memiliki sumber daya alam melimpah kalau tak bisa mengolah sendiri. Ini makanya negara-negara Eropa tak pernah ragu menggelontorkan puluhan triliunan untuk beasiswa. Karena mereka yakin para ilmuwan itu yang akan berkontribusi terhadap kemajuan dunia. 

Saya harap pemerintah kita lebih masif lagi mendukung program-program sekolah lanjutan hingga tingkat profesor. Negara ini bisa dibilang terlambat dalam mengolah kekayaan alamnya sendiri. Untungnya periode kedua Jokowi sudah berjalan ke arah yang benar. 

Makanya saat ini Indonesia masuk menjadi salah satu 3 negara utama dari G 20. Sekarang terlihat jelas siapa yang ingin Indonesia maju dan yang ingin negara kita tetap terbelakang. Saat kejayaan di depan mata, mereka ingin rakyat disibukkan dengan isu basi untuk memuluskan bisnis.

Tapi Tuhan tak tidur, dia yang menakdirkan Indonesia menjadi negara maju maka tak akan ada satupun yang bisa menghalangi. Lewat tangan besi seorang Jokowi dan watak keras kepalanya, impian Indonesia sebagai negara maju ada di depan mata.
×
Berita Terbaru Update